Pemerintah Desa Pakuwesi Bahas Strategi Pengendalian Sampah Sesuai Karakteristik Sosial dan Geografis Lokal

BONDOWOSO, 6 Juli 2026 – Pemerintah Desa Pakuwesi, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, menggelar rapat koordinasi khusus hari ini untuk membahas penanganan masalah sampah yang semakin mendesak, dengan merumuskan langkah konkret yang disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat serta karakteristik geografis wilayah setempat .
 
Latar Belakang Masalah
 
Desa Pakuwesi terletak di dataran tinggi dan perbukitan dengan ketinggian sekitar 366 mdpl, dikelilingi aliran sungai kecil dan jalur akses yang berkelok-kelok . Kondisi ini membuat pengangkutan sampah menuju tempat pembuangan akhir kabupaten menjadi sulit dan mahal. Secara sosial, mayoritas warga bermata pencaharian sebagai petani dan peternak, namun kebiasaan membuang sampah sembarangan ke selokan, parit, dan pinggir jalan mulai menimbulkan masalah: penyumbatan saluran air, potensi banjir saat musim hujan, serta risiko pencemaran sumber air bersih .
 
Pembahasan Utama
 
Dalam rapat yang dipimpin Kepala Desa Pakuwesi dan dihadiri perangkat desa, tokoh masyarakat, kader lingkungan, serta perwakilan dusun, disepakati tantangan utama:
 
- Geografis: Wilayah terbagi dalam dusun yang terpisah, akses jalan berat, dan jarak jauh ke TPA kabupaten .

- Sosial: Kesadaran pemilahan sampah masih rendah, keterbatasan dana desa, dan belum adanya sistem pengelolaan terpadu .
 
Solusi Sesuai Kondisi Lokal
 
Pemerintah desa menetapkan langkah bertahap dan berbasis kearifan lokal:
 
1. Sesuai Kondisi Geografis
 
- Pembentukan TPS 3R Per Dusun: Membangun tempat pengolahan terdekat di setiap kawasan, mengurangi beban angkut jarak jauh .

- Pengolahan Lokal: Sampah organik sisa pertanian dan rumah tangga diolah menjadi pupuk kompos atau pakan maggot di lokasi, tidak perlu diangkut keluar desa .

- Larangan Keras Buang ke Aliran Air: Menetapkan aturan desa dan patroli warga guna mencegah sampah masuk sungai yang berhulu ke daerah bawah .
 
2. Sesuai Kondisi Sosial
 
- Sosialisasi Berbasis Gotong Royong: Menggandeng tokoh adat dan agama untuk menyampaikan materi dalam bahasa yang akrab dan mudah diterima .

- Pendirian Bank Sampah: Memberikan insentif ekonomi—sampah plastik/kertas dapat ditukar kebutuhan pokok atau tabungan—sesuai pola ekonomi masyarakat pedesaan .

- Pelibatan Kelompok Tani: Memanfaatkan hasil pengolahan sampah organik sebagai pupuk untuk lahan pertanian warga, sehingga memberikan manfaat langsung.
 
3. Dukungan Regulasi dan Kerja Sama
 
Pemerintah desa akan menyusun Peraturan Desa tentang Pengelolaan Sampah, serta mengajukan bantuan fasilitas dan pendampingan teknis dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bondowoso . Langkah ini juga selaras dengan arahan nasional untuk menghentikan sistem pembuangan terbuka dan mencapai pengelolaan sampah 100% pada tahun 2029 .
 
Pernyataan Resmi
 
“Kami tidak bisa meniru cara kota besar. Di Pakuwesi, solusi harus memanfaatkan kelebihan alam kita dan menyentuh kebutuhan warga sehari-hari. Yang penting dimulai dari rumah, dimanfaatkan di desa, dan menjaga sungai serta tanah tempat kita bertani,” ujar Kepala Desa Pakuwesi "Syahrullah, S.H.".
 
Rencana tindak lanjut akan disosialisasikan secara bertahap mulai minggu depan, dengan target pemilahan sampah di sumber mencapai 70% pada akhir tahun 2026.

Share Berita Ini